1. Latar Belakang Proyek

Di sebuah kawasan budidaya udang berskala besar yang berlokasi di Zhanjiang, Provinsi Guangdong, tempat budidaya tersebut mengkhususkan diri dalam membudidayakan udang putih (Litopenaeus vannamei). Peternakan ini berkomitmen untuk meningkatkan produksi melalui sistem pemberian pakan dengan kepadatan tinggi serta menjaga kualitas air yang stabil. Kadar oksigen terlarut (DO) sangat penting bagi pertumbuhan dan kelangsungan hidup udang, terutama selama periode suhu tinggi atau setelah pemberian pakan ketika kadar DO cenderung menurun.

Sensor DDO Berfluoresensi KWS-630 untuk Pemantauan Kualitas Air di Budidaya Udang
Sensor DO Fluoresensi KWS-630 untuk Pemantauan Kualitas Air di Budidaya Udang

2. Tantangan dalam Pengukuran

Lokasi budidaya udang tersebut terdiri dari beberapa kolam perairan terbuka yang luas, dengan masing-masing kolam mencakup luas sekitar 1.500 meter persegi dan kedalaman air sebesar 1,0–1,5 meter. Situs ini memiliki ketentuan-ketentuan berikut:

  • Sedang: Air laut
  • Spesies: Udang putih (berkerangka luar keras, perenang yang lincah)
  • Kisaran salinitas: 28–32 PSU
  • Persyaratan pengukuran: Pemantauan DO secara berkelanjutan dengan data real-time
  • Output sinyal: RS485 (Modbus RTU)
  • Catu daya: 24 V DC

Tantangan yang dihadapi di lokasi tersebut antara lain:

  1. Dampak Fisik Akibat Udang
    Udang, dengan eksoskeletonnya yang keras, cenderung berenang dengan cepat, dan terkadang menabrak sensor. Hal ini dapat menyebabkan kerusakan pada membran fluoresensi (bagian optik dari sensor), yang berpotensi memperpendek masa pakai sensor.
  2. Ketahanan di Lingkungan Laut yang Ekstrem
    Sensor tersebut harus beroperasi dalam air asin dengan suhu yang bervariasi, dan ganggang serta mikroorganisme lainnya mungkin menempel pada permukaannya.

3. Sensor DO Konfigurasi Solusi

Untuk mengatasi tantangan-tantangan tersebut, konfigurasi berikut ini telah diterapkan:

4. Pemasangan dan Pengoperasian Awal

Proses pemasangannya adalah sebagai berikut:

  1. Membersihkan permukaan kolam agar pembacaan sensor tidak terhalang.
  2. Penempatan sensor di lokasi yang optimal, menghindari arus air yang bergejolak, dan memastikan hasil pengukuran yang representatif.
  3. Menghubungkan keluaran sinyal RS485 ke sistem pemantauan pertanian untuk pengumpulan data secara berkelanjutan.
  4. Penyesuaian dan pengaturan akhir, termasuk masukan kadar garam, guna memastikan pelaporan data yang akurat.

Proses pemasangan dan pengoperasian awal memakan waktu sekitar 1,5 jam, dan tidak ada gangguan terhadap kegiatan operasional harian peternakan tersebut.

5. Kinerja Aplikasi

  • Pemantauan daring secara real-time: Mengganti pemeriksaan acak manual dengan pengumpulan data secara berkelanjutan selama 24 jam.
  • Peningkatan stabilitas kualitas air: Melalui integrasi dengan peralatan aerasi, kadar oksigen terlarut (DO) berhasil dijaga agar tetap berada dalam kisaran target sebesar 4,5–6,0 mg/L, sehingga meminimalkan risiko hipoksia.
  • Biaya pemeliharaan yang lebih rendah: Sensor tersebut casing dari paduan titanium dan penutup pelindung plastik khusus penurunan kerusakan akibat udang, dengan tidak terdapat korosi atau kerusakan fisik yang signifikan dalam 6 bulan operasi tanpa henti.
  • Tingkat kelangsungan hidup yang meningkat: Peternakan tersebut mencatat sebuah Peningkatan tingkat kelangsungan hidup udang sebesar 10% selama bulan-bulan dengan suhu tinggi, dan tingkat kelangsungan hidup secara keseluruhan meningkat sebesar 8–12% dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
  • Masukan dari teknisi: Sistem ini stabilitas dan visualisasi data secara signifikan mempermudah tugas-tugas pemantauan, dan pemberitahuan secara real-time dan pengendalian otomatis pengurangan beban kerja operator.

6. Ringkasan Proyek

Solusi ini tidak hanya meningkatkan tingkat kelangsungan hidup udang, tetapi juga mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya dengan memastikan aerasi yang efisien, menurunkan biaya pemeliharaan, dan menyediakan solusi pemantauan yang tahan lama.